Jintan Hitam (Nigella Sativa L.)
atau dikenal juga dengan Habbatussauda’ atau Black
Seed sudah dipercaya selama
ribuan tahun untuk mengobati berbagai macam penyakit. Tumbuhan yang tersebar di
sepanjang Mediterania (Laut Tengah) ini bahkan direkomendasikan oleh Nabi
Muhammad SAW., sebagai sarana pengobatan yang alami. Penelitian pun modern
membuktikan, Jinten Hitam memiliki senyawa danm zat-zat aktif yang bermanfaat
untuk mengusir banyak penyakit.
Meski sudah digunakan di dunia pengobatan selama ribuan
tahun, namun di Indonesia, nama Jinten Hitam masih tergolong fenomena baru.
Namun kini, berkat akses media yang semakin canggih dan cepat, masyarakat sudah
mulai tahu kehebatan dan keajaiban rempah-rempah yang juga disebut dalam Kitab
Perjanjian Lama tersebut. Asal tahu saja, tanaman ini mampu menyembuhkan
penyakit ringan seperti alergi, batuk pilek hingga penyakit mematikanseperti
kencing manis, kanker, prostat, asma dan sebagainya. Yak salah jika
rempah-rempah berwarna hitam ini disebut pula dalam “At Tibbun
An Nabawi “ (pengobatan cara
Nabi).
Bahaya Obat Medis Kimiawi
Teknologi yang semakin berkembang dalam hal penanganan
penyakit semakin mendukung manusia untuk
mengabaikan pentingnya menjaga pola kehidupan dengan baik. Tersedianya
berbagai obat medis di pasaran bebas dan para tenaga medis memungkinkan setiap
orang untuk berobat sewaktu-waktu ketika jatuh sakit. Ibaratnya makanan instan,
obat-obatan pun tersedia disetiap rumah bahkan di kantong tas yang siap di bawa
ke mana-mana. Sehingga, bukan pola kehidupan yang ditingkatkan untuk menjadi
lebih sehat, melainkan persediaan obat-obatan yang dipersiapkan sebagai amunisi
untuk melawan penyakit.
Sayangnya sebagian besar obat-obatan yang tersedia juga
merupakan hasil budaya instan, sehingga diambil dari bahan-bahan instan buatan
bukan dari alam. Akibatnya, muncul masalah-masalah baru yang berasal dari efek samping
obat-obatan.
Di Amerika efek samping obat-obatan bertanggungjawabatas
kematian 100.000 pasien. Berikut kutipan dari sebuah artikel dalam situs BBC
pada halaman kesehatan (yang ditulis oleh Dr. Trisha Macnoir :”Recent research in US has claimed that adverse drug reaction
may be responsible for the death of as many as 100,000 patients in US hospital
each year, making them one of the leading causes of death ”
terjemahannya : “Riset baru-baru ini di Amerika menyatakan bahwa reaksi obat-obatan
bertanggung jawab atas kematian 100.000 pasien di berbagai rumah sakit setiap
tahun, dan membuat efek samping menjadi salah satu sebab kematian yang utama ”.
|
Perbedaan Obat
Kimiawi dan Obat Herbal |
||
|
No |
Obat Kimiawi |
Obat Herbal |
|
1 |
Lebih diarahkan
untuk menghilangkan gejala-gejalanya saja |
Diarahkan pada
sumber penyebab penyakit dan perbaikan fungsi serta organ-organ yang rusak. |
|
2 |
Bersifat sympthomatis
yang hanya untuk mengurangi penderitaanya saja |
Bersifat
rekonstruktif atau memperbaiki organ-organ, jaringan atau sel-sel yang rusak. |
|
3 |
Bersifat paliatif,
artinya penyembuhan yang bersifat spekulatif, bila tepat penyakit akan
sembuh, bila tidak endapan obat akan menjadi racun yang berbahaya |
Bersifat kuratif,
artinya benar-benar menyembuhkan karena pengobatannya pada sumber. |
|
4 |
Lebih diutamakan
untuk penyakit-penyakit yang sifatnya akut (butuh pertolongan segera) seperti
asma akut, patah tulang, infeksi akut, dan lain-lain. |
Lebih diutamakan
untuk mencegah penyakit, pemulihan penyakit-penyakit komplikasi menahun serta
jenis penyakit yang memerlukan pengobatan lama. |
|
5 |
Reaksi cepat, namun
bersifat destruktif, artinya melemahkan organ tubuh lain, terutama jika
dipakai terus-menerus dalam jangka waktu lama. |
Reaksi lambat
tetapi bersifat konstruktif atau memperbaiki dan membangun kembali
organ-organ yang rusak. |
|
6 |
Efek samping yang
bisa ditimbulkan iritasi lambung dan hati, kerusakan ginjal, mengakibatkan
lemak darah. |
Efek samping hamper
tidak ada, asalkan diramu oleh herbalis yang ahli dan berpengalaman. |
|
7 |
Reaksi terhadap tubuh
cepat |
------ |
Sumber : Dewi, Nurfita, S.P. 2012. Dahsyatnya Jintan Hitam : Untuk Pengobatan Berbagai Penyakit. Yogyakarta : Pustaka Batu Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar